Macam Jenis Sertifikat Kepemilikan Tanah dan Properti

Macam Jenis Sertifikat Kepemilikan Tanah dan Properti

Macam Jenis Sertifikat Kepemilikan Tanah dan Properti

mywindowshelp.com – Saat ini bisnis jual beli ataupun investasi bidang properti cukup berkembang pesat di Indonesia. Mulai dari properti investasi tanah, bangunan, ruko, rumah, gedung bahkan hingga hotel dan lain sebagainya. Tentu saja para investor atau pembeli harus dengan cermat memperhatikan apakah properti tersebut memiliki keaslian sertifikatnya, dan jenis apa sertifikat tanah itu. Maka dari itu, simak ulasan berikut untuk memastikan Jenis Sertifikat Tanah dan Properti

Sertifikat Tanah

Sertifikat Tanah merupakan sebuah tanda bukti kepemilikan tanah sebagaimana tercantum dalam UUPA Pasal 19 Ayat ke 2 Huruf C. Merupakan hak atas tanah, hak pengelolaan, tanah wakar, hak milik atas satuan rumah susun dan hak tanggungan yang masing-masih sudah dibukukan dalam buku tanah yang bersangkutan. Sertifikat tanah diterbitkan dan hanya boleh diserahkan kepada yang namanya tercantum dalam buku tanah. Apabila tanah dijual, maka perlu adanya prosedur balik nama sertifikat tanah.

Oleh karena itu, memastikan keaslian dari sertifikat tanah adalah sesuatu yang sangat penting dimulai dari memperhatikan Jenis Sertifikat Kepemilikan Tanah dan Properti. Jika tidak akan menjadi masalah dan bahkan bisa tumpang tindih kepemilikan karena ada banyak sertifikat palsu yang mengatasnamakan 1 tanah.

Macam atau Jenis Sertifikat Kepemilikan Tanah dan Properti

Berdasarkan peraturan undang-undang pokok agraria (UUPA) tahun 160 yang tertera di no 5 tentang pokok-pokok agraria disebutkan ada 6 macam atau jenis sertifikat tanah yang ada di Indonesia

1. Jenis Sertifikat Hak Milik (SHM)

SHM atau Sertifikat Hak Milik merupakan salah satu jenis sertifikat tanah yang menunjukkan kepemilikan penuh oleh pemegang sertifikat tanah tersebut. Jenis sertifikat tanah ini bisa dibilang paling kuat karena tidak ada campur tangan orang lain akan kepemilikan suatu tanah atau lahan.

Jenis sertifikat ini juga tidak memiliki jangka waktu kepemilikan dan juga hanya bisa dimiliki oleh Warga Negara Indonesia (WNI). Sertifikat Hak Milik (SHM) ini juga dapat dijual belikan ke orang lain, atau bahkan digunakan sebagai warisan turun temurun kepada keluarga.

2. Jenis Sertifikat Hak Guna Usaha (SHGU)

SHGU ata Sertifikat Hak Guna Usaha merupakan bukti hak guna akan suatu tanah yang mana masih diuasai oleh negara dan memiliki jangka waktu tertentu. Biasanya jenis tanah ini adalah tanah negara yang dipergunakan untuk hutan produksi, pertanian, perkebunan dan peternakan.

SHGU sendiri memiliki jangka waktu hingga 25 tahun dimana seseorang bisa memanfaatkannya untuk keperluan produksi pertanian secara luas diatas.

3. Jenis Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB)

Jenis sertifikat ini merupakan sertifikat tanah yang pemegangnya hanya bisa memanfaatkan tanah baik mendirikan bagunan diatasnya atau lainnya. Status kepemilikan tanahnya pun masih milik negara.

Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) ini pada umumnya juga memiliki jangka waktunya. Sekitar 30 tahun jangka waktu SHGB dan setelah itu maka pemegang sertifikat harus memperpanjangnya. Kepemilikan SHGB pun juga harus berstatus WNI (Warga negara Indonesia)

4. Jenis SHSRS (Sertifikat Hak Satuan Rumah Susun)

Sertifikat Hak Satuan Rumah Susun atau SHSRS merupakan sertifikat yang dipakai sebagai tanda kepemilikan atas rumah vertikan seperti apartemen yang mana dibangun diatas tanah yang dimiliki bersama.

Meskipun bersama, sertifikat ini juga merupakan sertifikat resmi, dapat diperjual belikan dan dijadikan jaminan di bank. Umumnya yang menggunakan sertifikat ini adalah apartemen, perkantoran, kios, kondominium, dan sebagainya

5. Jenis Sertifikat Girik atau Petok

Jenis sertifikat Girik adalah sebenarnya juga bukan merupakan sertifikat. Namun hanya sebatas surat atas penguasaan suatu lahan. Umumnya tanah girik masih erat kaitannya dengan pengusaan oleh adat setempat, atau desa setempat. Tanah ini biasanya statusnya belum didaftarkan ke negara. Proses jual beli hak penguasaan biasanya melibatkan kepala desa atau lurah setempat.

6. Jenis Sertifikat Akta Jual Beli (AJB)

AJB atau Akta Jual Beli bisa dibilang bukan sertifikat kepemilikan namun hanya sebatas bukti adanya jual beli tanah. AJB dapat mencangkup jenis sertifikat tanah baik SHM, SHGU, maupun tanah Girik. Akta ini harus dibuat dan disahkan oleh pejabat pembuat akta tanah (PPAT) yang telah resmi. Jenis AJB ini cukup rentan akan kasus kepemilikan ganda sehingga baiknya segera diubah ke SHM.

Demikian pembahasan terkait Jenis Sertifikat Kepemilikan Tanah dan Properti semoga bisa menambah wawasan sebelum kita terjun dalam transaksi properti maupun tanah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *