5 Fakta Tentang Saham DCII Salah Satunya Melesat Hingga 11.000 persen

5 Fakta Tentang Saham DCII: Salah Satunya Melesat Hingga 11.000%

Sekilas tentang 5 Fakta Tentang Saham DCII

Saham emiten penyuplai service data center punya pebisnis Toto Sugiri, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) jadi bintang baru di jagat bursa Tanah Air. Harga saham ini naik belasan ribu % dalam waktu enam bulan semenjak terdaftar di Bursa Dampak Indonesia (BEI).

Peningkatan saham DCII semenjak awalnya penawaran umum saham pertama (initial public offering/IPO) terkait dengan euforia index tehnologi (IDXTECHNO) yang di awal tahun ini baru dikeluarkan oleh BEI.

Saham ini makin bergerak liar minimal di dalam 2 minggu paling akhir sesudah tersengat berita bos Group Indofood, Anthoni Salim, sah memboyong saham DCII. Berikut ini kami meringkas beberapa bukti penting berkenaan saham DCII.

5 Fakta Tentang Saham DCII

  1. Harga Saham Melesat 11.000%, Menjadi yang Paling Mahal dan Masuk Big Cap

Semenjak awalnya melantai (listing) pada 6 Januari tahun ini, saham ini selalu menyerobot ke atas sampai pada akhirnya melalui harga dua saham ‘dedengkot’ termahal di bursa Tanah Air. Selain itu saham industri rokok terbesar yakni PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan juga saham dari bank swasta paling besar di RI yakni PT Bank Central Asia (BBCA) atau sering disebut dengan BCA.

Di saat IPO, saham emiten yang dibangun pada 2011 lalu ini sejumlah Rp 420/saham. Per Selasa (15/6), saham DCII telah melesat ‘to the moon’11.864% ke harga Rp 50.250/saham.

  1. DCI, Perusahaan Data Center Yang Memimpin Pasar

Perusahaan DCI Indonesia sendiri sebenarnya telah berdiri sejak tanggal 18 Juli 2011. DCI Indonesia ternyata sebagai pusat data Tier IV pertama di kawasan Asia Tenggara. DCI telah mengawali aktivitas bisnis komersialnya sejak tahun 2013 silam. Perusahaan ini beroperasi di sektor industri penyuplai jasa kegiatan hosting dan kegiatan berkaitan yang lain seperti jasa pemrosesan data, web-hosting, streaming, program hosting dan penyimpanan cloud computing.

Disamping itu, DCI Indonesia khususnya sediakan jasa colocation, yakni pengadaan tempat untuk simpan atau memercayakan server konsumen setia dengan standard keamanan fisik dan infrastruktur, seperti konsistensi arus listrik dan kontrol udara.

Sekarang, DCI jadi pimpinan pasar (pasar leader) dengan keseluruhan kemampuan 37 MW 51% dari market share data center colocation di Tanah Air.

  1. Masuknya Pengusaha Kawakan Anthoni Salim

Di awal bulan ini, Direktur Khusus dan CEO Group Indofood, Anthoni Salim, terdaftar menambahkan pemilikan atas saham DCII dari sebelumnya 3,03% sekarang jadi 11,12%. Data ini tersingkap dalam perincian pemegang saham di atas 5% yang dipublikasi oleh PT Kustodian Sentra Dampak Indonesia (KSEI) per 2 Juni 2021.

Berdasar data KSEI itu, transaksi bisnis pembelian ini dilaksanakan pada 31 Mei 2021 pada harga Rp 5.277/saham. Keseluruhan jumlah saham baru yang dibeli oleh anak pendiri Group Salim, Sudono Salim, ini ialah beberapa 192,74 juta, hingga nilai transaksi bisnis ini capai Rp 1,01 triliun.

  1. Tiga Orang Tajir Baru Lahir dari ‘Rahim’ DCII

Melantainya saham emiten DCII di BEI sukses menghasilkan 3 orang kaya baru di Indonesia. Ini muncul karena saham emiten yang baru enam bulan terdaftar di papan perdagangan di BEI ini selalu melesat dari waktu ke waktu sampai capai 11.864% per Senin lalu-sebelum disuspensi oleh bursa.

Per Mei, laporan terkini mengatakan si presiden direktur DCII Otto Toto Sugiri menggenggam 712.784.905 atau 29,9%, presiden komisaris Maria Budiman 536.505.149 atau 22,51%, Han Arming Hanafia 14,11% atau 336.352.227, dan Anthoni Salim 265.033.461 atau 11,12%.

Saat itu, valuasi sekarang ini saat harga DCII Rp 50.250 yaitu Rp 17 triliun atau US$ 1,17 miliar, atau cuannya capai Rp 16,85 triliun.

Jika dibanding dengan urutan orang paling kaya Indonesia versus Majalah Forbes tahun 2020 lalu, Han Arming akan menempati di rangking 28 orang paling kaya di Indonesia.

  1. Harga Terus Naik, Valuasinya Mahal Pakai Sekali

Peningkatan harga saham DCII belakangan ini sudah pasti membuat beberapa aktor pasar ingin tahu masihkah pantas melakukan investasi di saham ini. Well, sesudah melejit kuat, sekarang ini DCII diperjualbelikan dengan valuasi yang paling premium.

Pikirkan saja, jika memakai sistem valuasi keuntungan bersih dibanding pada harga saham alias Price Earning Ratio (PER), karena itu PER DCII ada di angka 623,11 kali. Walau sebenarnya, PER secara rule of thumb umumnya disebutkan lumrah jika ada di range 20 kali.

Sementara, jika memakai sistem valuasi nilai buku dibanding pada harga sahamnya alias Price to book nilai (PBV), rasio PBV DCII sekarang ini ada di angka 130,46 kali yang tentu saja termasuk benar-benar mahal.

Maka bila Anda ingin masuk ke saham ini, pikirkanlah horizon investasi apa periode panjang, periode menengah atau periode pendek hingga dapat memutuskan yang akurat.

Demikian pembahasan mengenai fakta Saham DCII atau PT DCI Indonesia Tbk, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.